Apa yang anda tahu tentang Fintech ? layanan fintech apa saja yang sudah pernah anda gunakan ? sejauh mana fintech membantu dalam kehidupan perekonomian anda ? rupanya, masih banyak yang salah kaprah tentang fintech. Apa saja hal-hal seputar fintech yang sering salah kaprah di masyarakat ? 

Dua tahun terakhir perkembangan teknologi di sektor keuangan mulai menyasar masyarakat yang lebih luas, seiring dengan kebijakan pemerintah yang ingin agar sektor keuangan lebih inklusif. Satu demi satu penyedia teknologi jasa keuangan atau Financial Technology mulai unjuk gigi dan perlahan masyarakat mulai bisa menerima bahkan beberapa layanan Fintech sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. 

Namun masih ada sebagian masyarakat yang menangkap fintech hanya sebagian kecil. Akibatnya, banyak salah kaprah terjadi di masyarakat. Berikut adalah beberapa salah kaprah seputar fintech di masyarakat. 

1. Fintech itu Pinjaman Online. 
Masih banyak anggapan bahwa fintech adalah pinjaman online. Anggapan ini tentu saja kurang tepat. Sebab fintech tidak selalu pinjaman online. Klasifikasi fintech menurut Bank Indonesia ada 4 jenis. 
Pertama, crowdfunding dan Peer to Peer Lending. Instrumen pembiayaan inilah yang dalam beberapa waktu terakhir juga turut diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia.Dengan sistem ini, pengguna dimungkinkan untuk memperoleh pinjaman sejumlah uang kepada para pemberi pinjaman sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam tiap penyedia jasa.
Kedua, Market Aggregator. Klasifikasi ini memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data finansial. Data ini kemudian akan diberikan kepada pengguna.
Ketiga, Risk and Investment Management. Klasifikasi yang ketiga mengambil konsep bergerak membantu sebagai financial planner dengan mode digital. Dengan klasifikasi ini pengguna akan dimudahkan dengan pemberian arahan terkait produk investasi apa yang cocok dan sesuai untuk pengguna.
dan Keempat, Payment, Settlement, and Clearing.Klasifikasi yang terakhir ini berada dalam ranah Bank Indonesia. Instrumen pembiayaan yang satu ini memiliki tujuan untuk mempercepat dan mempermudah proses pembayaran via online.
Klasifikasi ini telah banyak diterapkan di Indonesia. Banyak pula yang menggunakannya. Dengan menggunakan instrumen pembayaran sesuai klasifikasi ini, pengguna tidak perlu lagi melakukan pembayaran secara tunai.

2. Fintech hanya untuk kalangan atas. 
Anggapan bahwa fintech adalah sesuatu yang cocok untuk kalangan tertentu juga kurang tepat. Sebab fintech justru hadir sebagai alternatif khususnya bagi masyarakat yang selama ini tidak bisa terhubung dengan perbankan atau lembaga keuangan pada umumnya. Sementara, data pemerintah menyebutkan, kelompok masyarakat yang tidak tersentuh oleh lembaga keuangan atau disebut juga un-bank people, jumlahnya mencapai 63 juta orang. 
Karenanya, fintech justru memiliki potensi menjangkau audiens lebih luas dengan keistimewaannya antara lain proses yang mudah dan cepat. 


3. Fintech itu aplikasi di smartphone.
Memang benar bahwa kebanyakan wujud fintech adalah berbentuk aplikasi pada smartphone. Namun tidak berarti fintech adalah aplikasi. 
Fintech adalah perpaduan antara layanan finansial dengan teknologi. Aplikasi adalah salah satu "wajah" dari keseluruhan sistem tersebut. Sehingga fintech bisa saja berbentuk aplikasi smartphone, atau bisa juga berbentuk layanan berbasis website. 


Demikian beberapa hal mengenai salah kaprah dalam memahami fintech di masyarakat. Karena itulah perlu edukasi secara simultan ke masyarakat mengenai fintech dan manfaatnya bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.