Riset yang baru saja dilakukan Google dan Temasek menunjukkan bahwa layanan pembayaran digital saat ini telah menjadi sarana baru bagi masyarakat yang tidak mau direpotkan dengan mengeluarkan uang pada saat bertransaksi. Dimulai dari layanan transportasi online, belanja online, hingga membeli makanan di toko-toko bisa dibayar menggunakan uang elektronik.

Di Indonesia, kini ada beberapa pemain pembayaran digital yang sudah populer, di antaranya Go-Pay, Ovo, Dana, Mandiri e-cash, BCA Sakuku, TCash, dan sebagainya.

Menurut laporan riset Google dan Temasek bertajuk 'e-Conomy SEA 2018' itu, adopsi layanan pembayaran digital di Indonesia sudah mencapai angka 46 persen.

Data tersebut menunjukkan sekitar satu dari dua pengguna internet Indonesia telah mengadopsi salah satu bentuk pembayaran digital seperti Go-Pay. TCash, atau Mandiri e-cash.

Walau begitu, total transaksi yang dibayar via pembayaran digital tetap berada pada kisaran rendah. Sayangnya riset tersebut tidak mengungkap berapa jumlah transaksi lewat pembayaran digital yang terjadi di Indonesia.

Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf, melihat layanan pembayaran digital memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi beberapa tahun ke depan. Ia mencontohkan jika akan ada banyak layanan pembayaran digital baru ke depannya dan kemungkinan akan saling terintergrasi dengan pembayaran offline.

"Digital payment akan terus tumbuh, banyak sekarang sudah beralih ke elektronik, seperti kemunculan e-money dan Go-Pay. Banyak penawaran produk yang terintegrasi dengan pembayaran offline, seperti penggunaan fitur QR code di merchant-merchant," kata Randy, saat dalam acara pemaparan hasil riset tersebut di kantor Google Indonesia, Jakarta, Selasa (27/11).

Selain itu, Randy menambahkan peningkatan adopsi layanan pembayaran di Indonesia juga disebabkan oleh penggunaan smartphone yang meningkat dan disertai tingginya penetrasi internet.

"Produk layanan pembayaran digital saat ini banyak dikembangkan pada smartphone. Sebisa mungkin smartphone menjadi pusat kontrol. Maka, penggunaan internet mobile yang tinggi, seperti saya sebutkan di awal untuk kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia jadi memudahkan pengadopsian," terangnya.

Berdasarkan data riset itu, jumlah pengguna internet di kawasan Asia Tenggara tahun 2018 mencapai 350 juta dan 150 juta di antaranya berasal dari Indonesia. Sementara penetrasi internet mobile atau pengguna internet pada perangkat mobile mencapai 90 persen di Asia Tenggara.

Laporan itu juga menyebutkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.453 triliun. Lebih rinci lagi nilai ekonomi digital Indonesia pada tahun 2025 akan berasal dari sektor e-commerce sebesar 53 miliar dolar AS dan sektor online travel sebesar 25 miliar dolar AS.

Kemudian dua sektor lainnya, yakni sektor transportasi online dan pengiriman makanan akan menyumbang pendapatan sebesar 14 miliar dolar AS, serta 8 miliar dolar AS dari online media, yang terdiri dari layanan streaming video dan musik.

Dalam proyeksi jumlah ekonomi digital pada 2025, Indonesia mengalahkan Thailand dan Vietnam yang masing-masing diprediksi akan meraup 43 miliar dolar AS dan 33 miliar dolar AS. Pertumbuhan nilai yang dialami Indonesia dan Vietnam ini naik hingga tiga kali lipat sejak 2015.

Sumber: Kumparan