Jadi apa sih artinya Digital Disruption itu?

Kata ‘Disruption” berarti penggangu, pengacau, atau biang kerok. Secara bebas arti kata dari Digital Disruption adalah sesuatu yang datang setelah era digital dan mengganggu kestabilan bisnis yang tidak menggunakan internet dan teknologi digital sebagai nilai tambahnya.

Kata disruption sendiri sebenarnya agak rancu, sering salah dipahami, terutama kalau orang tidak mengerti konteksnya yang dalam hal ini adalah dunia digital.

Istilah Digital Disruption selanjutnya bisa dimaknai sebagai perubahan yang timbul karena Teknologi Digital dan Model Bisnis Digital yang berimbas kepada naik-turunnya nilai bisnis dari sebuah jasa atau barang yang telah ada sebelumnya.

Kasus tentang Digital Disruption yang fenomenal di Indonesia adalah GOjek.

Dengan menggunakan teknologi digital, GOjek berhasil merekrut ratusan ribu driver tanpa sepeserpun mengeluarkan uang untuk membeli motor. Apa yang dilakukan GOjek tentu saja merubah secara total model bisnis ojek yang sebelumnya tidak dikelola dengan profesional.

Sebelum datangnya GOjek, bisnis ojek sendiri sudah lama berjalan. Model bisnis transportasi roda dua seperti ini sangat umum di masyarakat Indonesia. Setiap dari kita pasti mengenal setidaknya 3 orang yang menjadi pengemudi ojek dan minimal pernah sekali dalam seumur hidup menggunakan jasa ojek.

Namun apa yang membuat kita berbeda dengan Nadiem Makarim sang pendiri GOjek?

Kita mengalami masalah yang sama saat menggunakan ojek; takut tertipu atau susah mencari saat butuh, tetapi Nadiem memberikan solusi dengan menggunakan teknologi digital dan membangun model bisnis yang sangat berbeda dengan bisnis ojek konvensional.

Untuk itu, Nadiem layak disebut sebagai Digital Disrupter, atau orang yang mampu menggunakan teknologi digital untuk membawa perubahan.

Selain GOjek di bisnis transportasi, mulai banyak lini bisnis yang mulai didatangi oleh para Digital Disrupter ini. Di bisnis perhotelan ada Airbnb yang mampu menyediakan kamar tanpa memiliki propertinya. Di bisnis telekomunikasi ada WeChat atau Line yang memberikan layanan telepon gratis melalui Internet. Di bisnis grosir & retail ada Tokopedia dan BukaLapak yang menjual jutaan item tanpa punya stok barang.

Lalu, apakah bisnis anda aman dari ‘serangan’ Digital Disruption?

Ada satu ungkapan yang beredar di kalangan pebisnis di LinkedIn yang berbunyi “Hanya ada SATU bos di dunia ini. Ia adalah PELANGGAN anda. Dan dia bisa memecat semua orang di perusahaan anda, dari direktur sampai tukang sapu, hanya dengan melakukan satu hal yang sangat sederhana; yaitu dengan membelanjakan uangnya di tempat lain”

Kesimpulannya, semakin banyak pelanggan anda yang terhubung ke Internet, semakin besar peluang mereka membeli barang dan kebutuhannya di tempat lain, yang berarti kalau tidak secepatnya anda tangani, pangsa pasar bisnis anda akan semakin turun.

Jadi kenali pelanggan anda. Pelajari behaviour mereka. Kalau mereka melek internet. Segera terapkan strategi digital marketing agar mereka tetap menjadi pelanggan anda.

 

Disadur dari: ngobroldigitalmarketing